Rabu, 16 Juli 2014

Cerpen Palngi Sejuta Warna



Pelangi Sejuta Warna

Sinaran mentari kini tak mampu menghangatkan tubuhku lagi. Sejak kejadian kecelakaan maut itu, aku sering mengurung diri di kamar. Kecelakaan yang kini membuat ku kehilangan sosok yang sangat berjasa dalam hidupku. Dia lah kakak ku. Orang yang selalu ada di samping ku, menemani ku setiap hari dan membantu memecahkan masalah yang selama ini kuhadapi.
“Bunga…. Ayo makan nak.. Sudah siang ni loh..!!” Teriak ibu ku dari ruang makan.
“Ya Bu.. sebentar.” Jawab ku dengan nada malas.
Ku  arah kan kursi roda ku ke luar kamar. Kecelakaan itu juga telah merenggut kedua kaki ku. Kata dokter, urat saraf di kaki ku mati karna kecelakaan itu, sehingga aku lumpuh. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan. Kehilangan kakak ku sebagai penyemangat hidupku, sekaligus kehilangan kesempatan untuk bermain bersama teman – temanku. Bagaimana mungkin aku bisa bermain dengan mereka, sedangkan aku tidak bisa berjalan apalagi berlari sepeti mereka. Sungguh sebuah kecelakaan yang tak mungkin dapat aku lupakan. Namun aku masih bersyukur, karna aku masih di berikan hidup yang sesungguhnya kau telah membenci kehidupan baru ku.
“Sayang,, nanti setelah makan kita jalan – jalan ke taman yuk.. Kamu akn sudah lama tidak pernah ke taman lagi. Gak kangen apa sama suasana di taman?
“Males ah bu, Bunga malu. Bunga kan gak bisa jalan lagi. Nanti malah merepotkan ibu saja. Bunga di rumah saja bu, Tidak apa – apa koq.” Jawab ku sekenanya saja.
“Ahh.. kamu ini. Tidak koq. Ya sudah pokoknya mau tidak mau kita akan ke taman. Tidak bosen apa, tiap hari keluar rumah Cuma buat sekolah aja.”?
“Ya sih bu, Ya sudah terserah ibu saja, asal Bunga tidak merepotkan”. Jawabku sambil meneruskan makanku.
Sebenarnya aku sangat ingin ke taman, aku rindu dengan suasana indah di taman. Taman yang sejuk dengan pepohonan yang rimbun. Banyak bunga – bunga yang berwarna warni di sana. Aku sangat menyukai hal itu.
Selesai makan, aku pun berangkat bersama ibu mengelilingi komplek perumahan kamu menuju taman yang indah itu. Disepanjang perjalanan aku melihat banyak anak – anak yang sedang bermain bersama teman mereka. Aku sangat iri melihat itu. Aku ingin kembali bisa merasakan hal indah itu. Sejak peristiwa pahit itu terjadi, aku tak pernah lagi di izinkan ibuku bermain bersama teman – temanku.  Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak ingin ibu ku tahu jika hati ku begitu teriris melihat hal itu.
***
Malam ini aku tak bisa tidur, tak tahu kenapa, banyangan peristiwa itu muncul kembali di pikiranku. Walaupun aku telah berusaha melupakan semua peristiwa yang telah merenggut kebahagiaanku. Ku coba untuk memejamkan mata. Namun hasilnya nihil. Tetap saja, diri ini enggan menuju surga mimpi.
Akhirnya aku pun memilih untuk menulis dairy. Tempat curhat favoritku. Dengannya aku telah terbiasa menangis, tertawa. Semua isi hati ku ku curahkan kepadanya. Tak tau sampai kapan hal ini akan berakhir, yang pasti, sejak kepergian kakak tercintaku, diary ini lah yang mampu menggantikan posisi beliau. Meskipun tak mungkin bisa sama persis seperti kakak ku.
Lembar demi lembar kutorehkan semua perasaanku. Goresan tinta yang memiliki sejuta makna kesedihan dan kebencian, kini telah kutorehkan dalam sebuah kertas. Kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, semua ku torehkan di dalam dairy ku. Hingga akhirnya aku pun tertidur di meja belajarku.
***
Siang ini aku akan berjalan – jalan ke taman. Namun hari ini aku tidak di temani ibu ku. Aku ingin merelaksasikan otak dan fikiranku di taman ini. Pohon mangga yang sampai saat ini masih ada dan meneduhkan taman. Tempat biasa aku dan teman ku bersenda gulau di bawah pohon itu, atau jika pohon nya sedang berbuah, dengan iseng kami lah yang suka mengambil buah tersebut.
Melihat indah dan keramaian taman ini, membuatku mengenang masa lalu ku. Masa indah bersama kakak dan teman ku. Karna taman ini lah yang menjadi saksi bisu kenangan masa lalu ku.
“Hai adek. Sendirian aja ni.? Jangan melamun donk.. Ntar kesambet loh?” Tanya penjual ice cream langganan ku.
“ Eh,, Kak. Gak melamun koq. Cuma lagi liatin bunga – bunga itu aja. Bagus – bagus ya kak.?” Jawab ku kaget.
“Kamu mau bunga itu?”
“Iya kak. Tapi aku tidak mungkin bisa mengambilnya.” Jawab ku murung sambil tertunduk.
“Hahahha.. jangan sedih gitu donk. Kan ada kakak di sini. Bentar ya, Biar kakak ambilkan bunganya untuk gadis secantik kamu.” kemudian dia berjalan mengambil bunga melati yang aku mau, dan memakaikannya di telinga ku.
“Hahahhah.. Kakak baik banget. Gimana jualannya hari ini kak? Laris tidak?”
“mmm.. Laris banget dek. Mungkin pengaruh ada cewek cantik disini ya. Jadinya ramai deh ni taman. Jadi laris deh jualan kakak hari ini.”
“Hahhaha. Kakak ini bisa aja. Oya. Kenalin, nama aku Bunga, Kalau kakak siapa?” jawab ku sambil menyodorkan tangan ku.
“Bunga… Pantesan aja cantik banget kayak bunga. Hehehhe.. Nama kakak Rangga.”
“ Oya, udah sore ni kak. Bunga pulang dulu ya. Nanti ibu bunga nyariin. Hehehhe”.
“Ya udah. Hati – hati ya Bunga. Sampai jumpa besok. Bye..bye…”
Sejak perkenalan itu, aku jadi sering main ketaman tak jarang juga kak Rangga yang main ke rumah ku. Sungguh aku sangat bahagia sekali. Akhirnya aku memiliki teman yang bisa menggantikan kakak ku. Kak Rangga lah yang membuat hari – hari ku menjadi lebih berwarna lagi. Hidupku seperti hujan yang telah reda dan memperoleh cahaya hingga menyebabkan adanya pelangi. Pelangi yang bergitu indah. Penuh dengan warna. Aku tak pernah menyangka hidup ku akan seindah ini.
            Kehadiran sosok kak Rangga dalam hidupku  merubah segalanya, dialah yang  mampu menambah semangat hidupku, aku yang benci kehidupan kini mulai mengerti tentang asam manis nya hidup. Hari – hari ku kini menjadi hari – hari terbaik dalam kisah hidup ku. Setiap detik bagiku adalah hal yang sangat indah.
***
Hari ini, seperti biasa, aku pergi ke taman. Hari ini aku membawa  hadiah untuk kak Rangga. Aku pun sengaja tak memberitahunya kalau aku akan ke taman hari ini.
“Kak Rangga mana ya, kok gak ada di taman?” tanya ku dalam hati.
Hari ini aku tak menemukan sosok kak Rangga di taman. Padahal biasanya dia selalu ada di taman. Jika pun tidak ada, pastilah dia sedang bersama ku di rumah.  Sungguh aneh hari ini.
Kucoba menelponnya, namun tak di angkat. Beberapa kali ku layangkan pesan, namun juga tak dibalasnya.
“Kemana kak Rangga?  Aku kangen Kakak loh..” . Aku pun mulai menangis.
“Hay,,, kak Bunga ya??” Tanya gadis kecil yang sepertinya masih berusia  8 tahun, yang ntah dari mana munculnya kau juga tidak tahu. Mungkin karna kesedihanku aku pun tak menyadari kedatangannya.
“Kak Bunga kan??” Tanya nya lagi karna aku belum menjawab.
Ku hapus air mata ku, dan mencoba tersenyum.
“Iya. Kamu siapa? Koq kamu kenal kakak?”
“Aku Mila kak, Aku sering ke taman ini. Dan aku juga sering beli ice cream kak Rangga. Kakak, kak Bunga kan? Ini ada surat dari kak Rangga. Tadi sebelum kakak datang kak Rangga menemui ku”. Jawabnya smbil menyodorkan sebuah amplop yang berwarna pink. Lengkap dengan gambar bunga melati putih kesukaanku.
“Makasih ya sayang” jawab ku sambil menerima surat pemberiannya.
“Ya udah kak. Mila pergi dulu ya”
Gadis kecil itu pun berlari berhamburan dengan teman – temannya. Meninggalkan ku yang masih diselimuti tanda Tanya. Apa maksud dari ini semua. Kenapa kak Rangga tidak menelpon ku saja. Kenapa harus pakai surat.
Aku pun pulang. Sesampainya di kamarku. Aku langsung membaca surat dari kak Rangga

Dear Bunga Sayang….

            Sebelumnya maafkan kakak ya dik, Kakak tidak memberimu kabar hari ini. Maaf selama ini kakak menyembunyikan sesuatu darimu. Selama ini kakak  menderita penyakit gagal ginjal. Tapi kakak tak ingin membuat mu bersedih.  Karna bagi kakak, kamu adalah hidup kakak. Sejak pertama kali kita berkenalan, kakak bahagia banget bisa mengenal sosok bidadari selucu kamu. Kamu yang tegar menghadapi semua cobaan dalam hidupmu. Dari mu kakak berusaha untuk tetap kuat menjalani hidup ini. Walaupun penderitaan yang begitu besar selalu kakak rasakan.
            Dan hari ini, adalah hari yang sangat sangat membuat kakak bahagia dik. Karna kakak mendapatkan pendonor ginjal yang dapat menolong hidup kakak. Sungguh, ini adalah hal yang paling membuat kakak bahagia. Jadi kebahagiaan kakak akan lengkap. Penyakit kakak hilang dan kakak punya kamu Bunga. Kakak harap Bunga gak marah sama  kakak.
            Maaf banget kakak gak bisa nemeni Bunga untuk beberapa hari ini. Bakalan kangen deh sama Bunganya. Kakka janji, kalau kakak dah sembuh, kakak bakalan main ke rumah Bunga plus kakak bawain bunga melati kesukaan Bunga. Trus ntar Bunga bakalan kakak ajak main ke rumah kakak. Bunga mau lihat kan taman melati yang pernah kakak certain waktu itu? Nanti Bunga boleh ambil bunga melatinya sesuka bunga deh.
            Kakak harap bunga Masih mau temenan sama kakak. Kakak gak mau kehilangan Bunga. Kakak sayang sama bunga. Bunga itu mengingatkan kakak sama adik kakak dulu.  Jangan sedih ya Sayang. Kakak gak mau liat semangat kakak Sedih.

                                                                                                             Salam Sayang
                                                                                                             Kak Rangga

Tak dapat ku bendung lagi air mata ini. Ku tumpah kan semua kesedihanku di depan kertas itu. Sakit hati ini bagaikan teriris sembilu. Kecewa, bahagia, semua nya bercampur jadi satu. Sampai – sampai aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
Aku tak pernah menyangka, jika Kak Rangga, sosok yang begitu tegar, ternyata menyimpan penyakit yang begitu parah. Dulu aku mengira aku adalah manusia yang paling menderita di dunia ini. Sampai – sampai aku ingin mengakhiri hidupku. Tapi, kak Rangga selalu menasihatiku, dia lah yang membuat aku masih bisa tersenyum  sampai saat ini.
“Ya Tuhan, aku mohon lancarkan lah operasi kak Rangga, supaya kami bisa bermain bersama lagi. Aku sayang sama dia. Aku gak mau kehilangan kakak kedua ku”. Ucapku, smabil memeluk surat kak Rangga. Hati ku hancur. Air mata ku terus menetes membasahi pipi dan surat pemberian dari kak Rangga.
***
Hari demi hari terus berjalan. Masih banyak perjalanan yang belum aku lewati. Masih banyak kisah yang belum aku tulis di kehidupanku. Hari – hari tanpa kak Rangga menjadi hari – hari yang membosankan. Kehidupanku kembali seperti sebelum ku mengenalnya. Aku menjadi pendiam, bahkan lebih diam dari sebelumnya. Aku tak tau apa lagi yang bisa membuat ku tersenyum.  Semuanya hambar, tak ada ceria dan tak ada tangis lagi.
Hari – hari ku ku lalui dengan menulis diary. Hanya diary lah yang selalu mengerti perasaanku. Semua rasa rindu dan kecewa ku terhadap kak Rangga aku tumpahkan di diary ku.
“Assalamualaikum..” terdengar suara seseorang dari luar rumah.
“Waalaikum salam, ya sebentar.” Terlihat dari dalam kamar ku, Ibu berlari untuk membuka pintu untuk tamu tersebut.
“Ehh.. Nak Rangga? Sudah sembuh ternyata.. Kapan pulang dari rumah sakit nak?” sapa ibu
“Iya buq... dua hari yang lalu buq. Hari ini baru di izini keluar rumah. Hehehhe… Bunga nya ada buq?”
“ ada koq. Silahkan duduk dulu” jawab ibu sembari memperisilahkan kak Rangga duduk dan ibu pun memanggilku di ke kamar.
Awalnya aku enggan menemui kak Rangga. Aku masih sebel melihatnya. Karna dia tidak menemuiku sebelum dia operasi, karena dia tidak memberitahuku tentang penyakitnya.  Aku kecewa dengannya. Rasa rindu ku terhapus oleh kecewa ku padanya. Sehingga ketika ibu memanggilku pun, aku tak ingin beranjak dari tempat tidur ku untuk menemuinya.
Namun, dugaanku salah, tadinya aku mengira kak Rangga akan pergi karna aku tidak mau menemuinya, ternyata dia malah memaksa ibu untuk membawanya ke kamar ku dan memaksa ku untuk membuka kan pintu untuknya.
Dengan sangat terpaksa akhirnya ku buka juga pintu kamarku. Aku tidak tega melihatnya memohon kepadaku. Dan ternyata dia menepati janjinya. Dia membawakan ku sekotak bunga melati putih kesukaanku. Dia juga memberiku sebatang coklat. Tak lupa dia juga meminta maaf kepadaku. Semua rasa kecewa ku kepadanya musnah sudah. Aku sangat bahagia melihat kak rangga ada di sisiku lagi.
Setelah pamit kepada ibu, kak Rangga pun membawa ku pergi ke rumahnya. Dia akan mengajakku melihat taman bunga melati yang telah dibuatkannya untukku. Sungguh, aku sangat terharu dengan hal ini. Ternyata walaupun keadaanku seperti ini, masih ada orang yang menganggapku special dimatanya.
Di perjalanan kami habiskan dengan canda dan tawa, dan ku tuangkan semua kekesalanku kepadanya. Hingga berulang kali dia meminta maaf kepada ku. Lucu rasanya. Tapi aku bahagia. Akhirnya kami sampai disebuah rumah dengan halaman yang sangat luas. Aku melihat banyak bunga – bunga yang berwarna warni yang di tata sedemikian rupa, hingga menjadikannya sangat indah.

Kak Rangga pun mengajakku masuk. Berkenalan dengan kedua orang tuanya. Lalu dia membawaku ke sebuah taman yang sangat indah, yang pernah dia janjikan dalam suratnya. Yaitu taman bunga  melati yang sengaja disiapkannya untukku. Sungguh tempat yang sangat indah yang belum perhah aku lihat sebelumnya. Puluhan bunga melati putih tersusun rapi, lalu di tengah – tengahnya terdapat sebuah ayunan yang berwarna putih pula. Ada kolam yang dihiasi dengan sepasang patung angsa. Sungguh sebuah taman yang sangat indah dengan semerbak aroma melati yang sangat aku sukai.
Sedang asyik – asyiknya kami berkeliling, tiba – tiba hujan turun. Kak Rangga pun menggendongku ke ayunan di taman itu. Taman itu terlihat semakin indah di bawah rintikan hujan. Gemercik hujan membawa keindahan tersendiri untukku.
“Lihat itu Bunga, ada pelangi.” Seru kak Rangga bersemangat.
“Mana kak, …. Oh iya… Wow.. cantik banget kak.
Aku ingin seperti pelangi kak, memiliki warna yang indah, meskipun hadirnya setelah hujan, tapi pelangi sangat di sukai bagi setiap orang ya kak.”
“Hahahhaha.. ya Bunga. Indah sekali ya. Seperti itulah kehidupan, pelangi adalah kebahagiaan. Sedangkan hujan adalah musibah menurut mereka, mungkin ada sebagain orang yang membenci hujan, namun mereka menyukai pelangi, aneh bukan?? Mereka membenci sesuatu yang menyebabkan kebahagiaan mereka datang. Syukuri lah hidup, maka kita akan menjadikan setiap detik yang kita lewati adalah pelangi. Ya,, Berwarna seperti pelangi”.
Kata – kata kak Rangga mengingatkanku kepada kakakku. Dahulu kami selalu menunggu datangnya pelangi. Aku yang membenci hujan. Karna aku takut petir. Namun ketika hujan reda, aku berlomba dengan kakakku untuk melihat pelangi. Dan semenjak kakakku menasehatiku, aku bahkan kini menyukai hujan. Karna aku berharap setelah hujan reda, aku akan menemukan pelangi. Pelangi dengan sejuta Warnanya yang indah. Aku berharap kakakku telah berada di salah satu warna pelangi tersebut.
Begitu lah kehidupan,  tak semua yang kita lihat menakutkan, adalah benar menakutkan. Ingatlah rencana Allah selalu lebih baik dari apa yang kita bayangkan. Jika hari ini kau tidak bahagia, tenanglah, Tuhan selalu menyiapkan hari esok untukmu. Maka rajutlah hari esokmu agar menjadi lebih indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar