Jumat, 26 September 2014

mengubah lagu menjadi cerpen (stand here alone kita lawan mereka)





Iseng nolongin temen ni gan...

Kali aja agan agan juga ada yang dapt tugas beginian. 

Membuat cerpen tapi berdasarkan lagu...

hahha

dan berhubung ane lagi suka dengeri nue lagu..

walaupun alirannya agak ngerock dikit.. tapi keren koq,.,,,

capcus aja deh..
nue dia cerpennya 
karya gue nue lohh!!!
 
Kita Lawan Mereka

Persahabatan bagi ku adalah hal yang sangat berarti di dunia ini. Di kehidupanku tak ada satu pun yang hal yang berarti selain indahnya persahabatan dan hangatnya keluarga. Namaku Alvin. Aku terlahir di perkampungan kumuh yang hanya di tempati oleh para pemulung dan orang orang berkehidupan kurang layak lainya. Bagi kami para anak sesusiaku bermain bukan lah rutinitas kami. Karna sepulang sekolah kami harus menjajakan Koran disepanjang trotoar jalanan dan berharap akan ada seseorang yang akan membeli Koran kami, ataupun ada pegawai kantor yang bersedia menggunakan jasa semir sepatu dari kami. Kehidupan keras dan kelam ini lah yang memacu semangat ku untuk terus bejuang dan berjuang agar aku dapat membanggakan kedua orang tuaku.
Aku memiliki 4 orang sahabat. Namanya Wira, Andri, Billy, dan Fandi. Dari mereka beremapt hanya Fandi lah yang tidak tinggal bersama kami. Fandi adalah anak dari seorang pengusaha rotan di daerah kota. Namun karna sikapnya yang ingin manja, ia meminta untuk tinggal di rumah neneknya yang kebetulan tidak jauh dengan sekolah kami. SMP Negeri 15. Disitulah kami biasa menimba ilmu dan bermain bersama dengan mereka. Kami selalu bersama di saat suka maupun duka. Bahkan tak jarang diantara kami yang saling memotivasi untuk terus melangkah demi mewujudkan impian kami. Meraih piala dalam pertandingan basket. Mendapatkan piala dan mengharumkan nama baik sekolah kami.
“Heyy…. Pagi – pagi udah melamun aja?? Mikirin apa sih?” sapa Fandi menghamburkan lamunanku.
“Ah.. kamu Fan.. mengagetkan saja. Mmm.. gak kok. Aku tidak melamun. Hanya perasaan kamu saja itu”. Sapa ku sekenanya.
“Kalau kamu tidak melamun, gak mungkin kamu terkejut Alvin. Ngomong ngomong kamu sudah selesai belum PR dari Bu Mitha. Haduh.. amit amit dah kalau belum siap. Kamu bakalan di jemur di depan tiang bendera selama mata pelajaran matematika. Ampun deh..”.
“Hahahhaha…. Gak enak kan?? Makanya jangan main PS aja kerjamu. Aku sih udah selesai dong. Hahhah”
“Eiittsss…eiitss…eeiitss.. minggir minggir…. Aku buru buru ini.” Tiba – tiba Wira datang menubruk apa yang ada didepannya.
“Pasti kamu belum selesai PR matematika kan. Hahahha…. Kamu sih bandal. Selamat di hukum deh. Hahhah” lanjut Billy yang baru saja datang dan langsung tertawa melihat ulag Wira.
            Detik berganti menit, menit berganti jam, dan akhirnya tibalah waktunya untuk pulang. Bel tanda pulang pun telah berbunyi. Kami semua bergegas untuk pulang. Seperti biasa perjalanan pulang ke rumah adalah hal yang indah bagi kami. Canda dan tawa tidak akan pernah lepas dari kami. Hingga akhirnya tepat berada di depan gerbang rumah nenek Fandi, dan Fandi pun telah tiba di rumahnya. Rutinitas selanjutnya adalah menjual Koran dengan tiga sahabatku. Sungguh pekerjaan yang berat bagi kami, karna selain harus  belajar dan mengerjakan tugas dari guru di sekolah kami juga harus bekerja untuk membantu orang tua. Ingin rasa hati untuk mengeluh, namun kami sadar, inilah jalan yang ditakdirkan tuhan untuk kami. Dan kami yakin ini lah yang akan membantu kami untuk sukses.
            “Woooowwww!!! Yes..yes..yess….!!!! huhuhuuuuu…!!!!” teriak Andri mengagetkan kami.
            “Salah makan obat ni anak mungkin ya?? Kenapa kamu Ndri?? Gembira banget gitu??”
            “ Iya ni Andri ngagetin aja. Kamu liat apaan sih?” Tanya ku penasaran.
            “Ini loh teman – teman. Bulan depan, pemerintah akan mengadakan pertandingan sepak bola antar sekolah. Jadi setiap sekolah di wajibkan mengutus satu tim dari sekolahnya. Dan aku ingin kita semua masuk dalam tim inti untuk mengikuti pertandingan tersebut. Kalian ingatkan, waktu pelajaran penjas kemarin kita berlima di puji Pak Rangga karna permainan kita bagus. Jadi ini kesempatan emas buat kita untuk ikut serta dalam pertandingan tersebut. Gimana??” jawab Andri besemangat.
            “Iiihh kamu ketinggalan berita Ndri. Itu kan sudah di umumkan di sekolah waktu upacara kemaren. Di madding juga udah ada posternya”. Sahut Wira.
            “Tapi,,, apa kamu yakin kita diizinkan untuk ikut serta?? Apa kamu lupa dengan Dani CS. Mereka selalu mengusik keberadaan kita.” Jawab ku sambil tertunduk lesu.
            “Heyy,,, tak usah bersedih gitu donk. Kamu itu bintang kelas di sekolah kita. Itu pasti akan menjadi nilai plus buat kita untuk meminta pak Rangga memilih siapa yang pantas menjadi tim dalam tim kita nanti.”
            Hari pun sudah sore. Kami pun beranjak pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan di rumah. Walaupun orang tua kami bukan lah orang berpendidikan. Tapi kami tidak ingin terbelanggu nasib. Kami ingin merubah segalanya. Kami tau, banyak orang di luar sana yang menganggap kami ini sampah yang tak berarti bagi mereka. Namun kami percaya, kami pasti bisa menjadi orang yang berarti. Kami percaya dengan ketekunan kami dalam belajar, kami pasti bisa meraih apa yang kami inginkan. Persahabatan ku dengan mereka membuatku kuat untuk meraih cita – cita ku menjadi seorang pesepak bola terkenal.
            “Pecundang seperti kalian ini tidak akan pantas menjadi tim sepak bola untuk mewakili sekolah kita. Sooo… jangan mimpi pak Rangga akan memilih kalian” suara lantang Dani mengagetkan kami.
            “Apa – apaan sih kamu Dan. Mulut apa kaleng rombeng sih?? Kalau ngomong itu di jaga dong. Kamu bukan Pak Rangga, jaid kamu gak berhak ngomong seperti itu!!”. Jawab Fandi terbawa emosi.
            “Hahahahah….. coba deh kamu bayangi Fandi, mereka ini Cuma anak pemulung. Apa mungkin mereka bisa membeli sepatu bola yang harga nya selangit itu?? Tidak akan bisa Fandi.. hahahhaha. Sudah deh.. jangan terlalu bermimpi… kalian itu Cuma sampah. S – A – M – P – A _ H. Sampah. Hahahhah!!!!” sahut Dani sambil menertawakan kami lalu berlalu pergi.
            “Jaga ucapan kamu ya!!!.”ter   iak Fandi marah.
            “Sudahlah Fandi, benar apa yang Dani bilang. Kami gak mungkin bisa ikut dalam pertandingan itu.” Jawab Billy sambil menundukkan wajahnya.
            “Heeyyy… kenapa kalian jadi pesimis begini sih?? Mana semangat kalian??  Ayo dongg semangat!!!! Gak usah dengeri mulut si kaleng rombeng itu.. tenang aja kalau Cuma masalah sepatu, aku bisa bongkar celengan ku untuk membeli sepatu buat kalian, senyum lagi dong!!”
            “Tak usah lah Fan, lupakan saja masalah pertandingan itu”. Ucap Wira lalu beranjak pergi meninggalkan kami semua.
            Hari terus berganti. Semenjak mendengar ucapan Dani, kami semua jadi saling diam. Tak ada canda apa lagi tawa. Semuanya saling membisu. Hanya Fandi lah yang sesekali menegur mereka. Namun sepertinya mereka sangat kecewa dengan ucapan Dani. Walaupun semangat mereka sudah luntur, namun mereka tak pernah berhenti dan menyerah untuk menampilkan yang terbaik dan membuktikan kepada Dani untuk tetap semangat dan terus berlatih untuk menjadi yang terbaik.
            Tiba lah hari yang sangat menegangkan bagi mereka. Hari ini pak Rangga akan mengumumkan tim inti untuk pertandingan nanti. Dan ternyata Aku, Fandi, Billy, Wira dan Andri terpilih untuk mengisi tim inti ini. Namun Dani Cs juga masuk. Hingga genaplah menjadi kesebelasan SMP Negeri 15. Kami pun berpelukan seolah lupa dengan semua masalah kami. Hari itu adalah hari yang sangat membuat kami bahagia. Akhirnya usaha yang kami lakukan tidak sia sia belaka.
            “Waktu yang kita punya tinggal 3 hari lagi. Semaksimal apapun latihan kita, tidak akan lengkap tanpa sepatu bola. Uang yang aku punya gak akan cukup untuk membeli sepatu itu??”. Ucap Wira saambil menunduk lemas.
            “Tenang saja kawan. Kita kumpulkan uang kita semua. Lalu kita beli sepatu bola untuk kalian. Kemarin aku baru saja di beri uang oleh paman ku. Kita gunakan saja. Aku yakin uangnya pasti cukup” seru Fandi menyemangati kami.
            “Kamu yakin Fandi, uang dari mana kami untuk mengganti uang mu itu”.
            “Tak usah diganti. Persahabatan kita ini lah gantinya. Dan aku akan marah besar kepada kalian jika kalian menolak keinginanku ini. Sudah lah ayo cepat kita pergi ke toko sepatu. Sebentar lagi kitakan mau latihan”. Ujar Fandi lalu menarik tangan kami.
            Akhirnya kami semakin yakin untuk mengikuti pertandingan sepak bola tersebut. Kami yakin, dengan latihan yang tekun dan kerja keras kami selama ini, kami pasti dapat mengharukan nama baik sekolah kami. Kami yakin, kami pasti bisa. Kami akan menunjukakn kepada Dani dan semua orang bahwa persahabatan akan mengalahkan segalanya. Kami pasti bisa dan akmi yakain kami bias.
            Hari yang kami tunggu – tunggu akhirnya tiba. Tim kesebalasan kami pun telah berada di area pertandingan. Tinggal menunggu waktu nya kami bertanding. Detik demi detik terus berlalu. Pak Rangga menasihati kami untuk terus kompak dan harus saling menyemangati satu sama lain. Walaupun sebenarnya di luar tim kami tak begitu dekat tapi kami harus bisa bertanding sebagus mungkin.
            Keringat bercucuran, degub jantung semakin terpacu dengan keras. Pertandingan telah berlalu dua puluh menit yang lalu, namun tim ku belum mencetak gol satu kali pun. Tapi hal itu tak membuat kami patah semangat. Kami terus berjuang. Tanpa patah semangat. Akhirnya dengan segenap tenaga yang ku miliki aku berjuang keras hingga akhirnya aku bisa mencetak gol yang menurut ku sangat luar biasa. Tim ku pun berlari berhamburan memelukku dengan penuh bahagia.
            Pertandingan telah usai. Tim ku akhirnya berhasil membawa pulang sebuah piala. Sungguh sebuah kebanggaan bagi kami. Usaha keras yang telah kami lakukan akhirnya membuahkan hasil yang indah. Dan kami berhasil membuktikan kesemua orang jika kami mampu untuk mengalahkan mereka. Dan kami berhasil membuktikan bahwa persahabatan itu sangatlah berarti. Sampah itu bukanlah hal yang buruk jika kamu mampu mengolahnya. Jangan pernah memandang remeh orang lain. Karna dibalik semua keburukan pasti ada hal yang indah.







 Nue lirik lagu yg menurut ane mirip gan..
hahahhah

Stand Here Alone
Kita Lawan Mereka
Jalan yang kita lalui
Kelam yang kita jalani kawan
Takkan mampu membuatku menjauh darimu

Bagai bintang yang bersinar
Bersinar terang diatas awan
Itulah arti persahabatan diantara kita
Yang takkan pernah pudar
Meskipun banyak orang mencibir
Dan berfikir negative tak pernah mengerti

Kita kan teriakan…

Meski kami selalu dikucilkan
Kami tak pernah berhenti tuk membuktikan
Kepada semua orang yang selalu menganggap diri kami sampah
Kami kan buktikan mereka itu sampah

Takkan pernah menyerah
Kami tak akan kalah
Tak peduli apa yang mereka katakan
Inilah kehidupan
Terima kenyataan
Kami kan hadapi pro kontra yang ada

Meski kami selalu dikucilkan
Kami tak pernah berhenti tuk membuktikan
Kepada semua orang yang selalu menganggap diri kami sampah
Kami kan buktikan mereka itu sampah !!


sekian deh...
semoga agan agan suka sama nue cerpen 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar