Pelangi Sejuta Warna
Sinaran mentari
kini tak mampu menghangatkan tubuhku lagi. Sejak kejadian kecelakaan maut itu,
aku sering mengurung diri di kamar. Kecelakaan yang kini membuat ku kehilangan
sosok yang sangat berjasa dalam hidupku. Dia lah kakak ku. Orang yang selalu
ada di samping ku, menemani ku setiap hari dan membantu memecahkan masalah yang
selama ini kuhadapi.
“Bunga…. Ayo
makan nak.. Sudah siang ni loh..!!” Teriak ibu ku dari ruang makan.
“Ya Bu..
sebentar.” Jawab ku dengan nada malas.
Ku arah kan kursi roda ku ke luar kamar.
Kecelakaan itu juga telah merenggut kedua kaki ku. Kata dokter, urat saraf di
kaki ku mati karna kecelakaan itu, sehingga aku lumpuh. Sungguh sebuah
kenyataan yang sangat menyakitkan. Kehilangan kakak ku sebagai penyemangat
hidupku, sekaligus kehilangan kesempatan untuk bermain bersama teman – temanku.
Bagaimana mungkin aku bisa bermain dengan mereka, sedangkan aku tidak bisa
berjalan apalagi berlari sepeti mereka. Sungguh sebuah kecelakaan yang tak
mungkin dapat aku lupakan. Namun aku masih bersyukur, karna aku masih di
berikan hidup yang sesungguhnya kau telah membenci kehidupan baru ku.
“Sayang,, nanti
setelah makan kita jalan – jalan ke taman yuk.. Kamu akn sudah lama tidak
pernah ke taman lagi. Gak kangen apa sama suasana di taman?
“Males ah bu,
Bunga malu. Bunga kan gak bisa jalan lagi. Nanti malah merepotkan ibu saja.
Bunga di rumah saja bu, Tidak apa – apa koq.” Jawab ku sekenanya saja.
“Ahh.. kamu ini.
Tidak koq. Ya sudah pokoknya mau tidak mau kita akan ke taman. Tidak bosen apa,
tiap hari keluar rumah Cuma buat sekolah aja.”?
“Ya sih bu, Ya
sudah terserah ibu saja, asal Bunga tidak merepotkan”. Jawabku sambil
meneruskan makanku.
Sebenarnya aku
sangat ingin ke taman, aku rindu dengan suasana indah di taman. Taman yang
sejuk dengan pepohonan yang rimbun. Banyak bunga – bunga yang berwarna warni di
sana. Aku sangat menyukai hal itu.
Selesai makan,
aku pun berangkat bersama ibu mengelilingi komplek perumahan kamu menuju taman
yang indah itu. Disepanjang perjalanan aku melihat banyak anak – anak yang
sedang bermain bersama teman mereka. Aku sangat iri melihat itu. Aku ingin
kembali bisa merasakan hal indah itu. Sejak peristiwa pahit itu terjadi, aku
tak pernah lagi di izinkan ibuku bermain bersama teman – temanku. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak
ingin ibu ku tahu jika hati ku begitu teriris melihat hal itu.
***
Malam ini aku
tak bisa tidur, tak tahu kenapa, banyangan peristiwa itu muncul kembali di
pikiranku. Walaupun aku telah berusaha melupakan semua peristiwa yang telah
merenggut kebahagiaanku. Ku coba untuk memejamkan mata. Namun hasilnya nihil.
Tetap saja, diri ini enggan menuju surga mimpi.
Akhirnya aku pun
memilih untuk menulis dairy. Tempat curhat favoritku. Dengannya aku telah
terbiasa menangis, tertawa. Semua isi hati ku ku curahkan kepadanya. Tak tau
sampai kapan hal ini akan berakhir, yang pasti, sejak kepergian kakak
tercintaku, diary ini lah yang mampu menggantikan posisi beliau. Meskipun tak
mungkin bisa sama persis seperti kakak ku.
Lembar demi
lembar kutorehkan semua perasaanku. Goresan tinta yang memiliki sejuta makna
kesedihan dan kebencian, kini telah kutorehkan dalam sebuah kertas. Kekecewaan,
kesedihan, kegelisahan, semua ku torehkan di dalam dairy ku. Hingga akhirnya
aku pun tertidur di meja belajarku.
***
Siang ini aku
akan berjalan – jalan ke taman. Namun hari ini aku tidak di temani ibu ku. Aku
ingin merelaksasikan otak dan fikiranku di taman ini. Pohon mangga yang sampai
saat ini masih ada dan meneduhkan taman. Tempat biasa aku dan teman ku bersenda
gulau di bawah pohon itu, atau jika pohon nya sedang berbuah, dengan iseng kami
lah yang suka mengambil buah tersebut.
Melihat indah
dan keramaian taman ini, membuatku mengenang masa lalu ku. Masa indah bersama
kakak dan teman ku. Karna taman ini lah yang menjadi saksi bisu kenangan masa
lalu ku.
“Hai adek.
Sendirian aja ni.? Jangan melamun donk.. Ntar kesambet loh?” Tanya penjual ice
cream langganan ku.
“ Eh,, Kak. Gak
melamun koq. Cuma lagi liatin bunga – bunga itu aja. Bagus – bagus ya kak.?”
Jawab ku kaget.
“Kamu mau bunga
itu?”
“Iya kak. Tapi aku
tidak mungkin bisa mengambilnya.” Jawab ku murung sambil tertunduk.
“Hahahha..
jangan sedih gitu donk. Kan ada kakak di sini. Bentar ya, Biar kakak ambilkan
bunganya untuk gadis secantik kamu.” kemudian dia berjalan mengambil bunga
melati yang aku mau, dan memakaikannya di telinga ku.
“Hahahhah..
Kakak baik banget. Gimana jualannya hari ini kak? Laris tidak?”
“mmm.. Laris
banget dek. Mungkin pengaruh ada cewek cantik disini ya. Jadinya ramai deh ni
taman. Jadi laris deh jualan kakak hari ini.”
“Hahhaha. Kakak
ini bisa aja. Oya. Kenalin, nama aku Bunga, Kalau kakak siapa?” jawab ku sambil
menyodorkan tangan ku.
“Bunga… Pantesan
aja cantik banget kayak bunga. Hehehhe.. Nama kakak Rangga.”
“ Oya, udah sore
ni kak. Bunga pulang dulu ya. Nanti ibu bunga nyariin. Hehehhe”.
“Ya udah. Hati –
hati ya Bunga. Sampai jumpa besok. Bye..bye…”
Sejak perkenalan
itu, aku jadi sering main ketaman tak jarang juga kak Rangga yang main ke rumah
ku. Sungguh aku sangat bahagia sekali. Akhirnya aku memiliki teman yang bisa
menggantikan kakak ku. Kak Rangga lah yang membuat hari – hari ku menjadi lebih
berwarna lagi. Hidupku seperti hujan yang telah reda dan memperoleh cahaya
hingga menyebabkan adanya pelangi. Pelangi yang bergitu indah. Penuh dengan
warna. Aku tak pernah menyangka hidup ku akan seindah ini.
Kehadiran sosok kak Rangga dalam
hidupku merubah segalanya, dialah
yang mampu menambah semangat hidupku,
aku yang benci kehidupan kini mulai mengerti tentang asam manis nya hidup. Hari
– hari ku kini menjadi hari – hari terbaik dalam kisah hidup ku. Setiap detik
bagiku adalah hal yang sangat indah.
***
Hari ini,
seperti biasa, aku pergi ke taman. Hari ini aku membawa hadiah untuk kak Rangga. Aku pun sengaja tak
memberitahunya kalau aku akan ke taman hari ini.
“Kak Rangga mana
ya, kok gak ada di taman?” tanya ku dalam hati.
Hari ini aku tak
menemukan sosok kak Rangga di taman. Padahal biasanya dia selalu ada di taman.
Jika pun tidak ada, pastilah dia sedang bersama ku di rumah. Sungguh aneh hari ini.
Kucoba
menelponnya, namun tak di angkat. Beberapa kali ku layangkan pesan, namun juga
tak dibalasnya.
“Kemana kak
Rangga? Aku kangen Kakak loh..” . Aku
pun mulai menangis.
“Hay,,, kak
Bunga ya??” Tanya gadis kecil yang sepertinya masih berusia 8 tahun, yang ntah dari mana munculnya kau
juga tidak tahu. Mungkin karna kesedihanku aku pun tak menyadari kedatangannya.
“Kak Bunga
kan??” Tanya nya lagi karna aku belum menjawab.
Ku hapus air
mata ku, dan mencoba tersenyum.
“Iya. Kamu
siapa? Koq kamu kenal kakak?”
“Aku Mila kak,
Aku sering ke taman ini. Dan aku juga sering beli ice cream kak Rangga. Kakak,
kak Bunga kan? Ini ada surat dari kak Rangga. Tadi sebelum kakak datang kak
Rangga menemui ku”. Jawabnya smbil menyodorkan sebuah amplop yang berwarna
pink. Lengkap dengan gambar bunga melati putih kesukaanku.
“Makasih ya
sayang” jawab ku sambil menerima surat pemberiannya.
“Ya udah kak.
Mila pergi dulu ya”
Gadis kecil itu
pun berlari berhamburan dengan teman – temannya. Meninggalkan ku yang masih
diselimuti tanda Tanya. Apa maksud dari ini semua. Kenapa kak Rangga tidak
menelpon ku saja. Kenapa harus pakai surat.
Aku pun pulang.
Sesampainya di kamarku. Aku langsung membaca surat dari kak Rangga
Dear Bunga Sayang….
Sebelumnya
maafkan kakak ya dik, Kakak tidak memberimu kabar hari ini. Maaf selama ini
kakak menyembunyikan sesuatu darimu. Selama ini kakak menderita penyakit gagal ginjal. Tapi kakak
tak ingin membuat mu bersedih. Karna
bagi kakak, kamu adalah hidup kakak. Sejak pertama kali kita berkenalan, kakak
bahagia banget bisa mengenal sosok bidadari selucu kamu. Kamu yang tegar
menghadapi semua cobaan dalam hidupmu. Dari mu kakak berusaha untuk tetap kuat
menjalani hidup ini. Walaupun penderitaan yang begitu besar selalu kakak
rasakan.
Dan
hari ini, adalah hari yang sangat sangat membuat kakak bahagia dik. Karna kakak
mendapatkan pendonor ginjal yang dapat menolong hidup kakak. Sungguh, ini
adalah hal yang paling membuat kakak bahagia. Jadi kebahagiaan kakak akan
lengkap. Penyakit kakak hilang dan kakak punya kamu Bunga. Kakak harap Bunga
gak marah sama kakak.
Maaf
banget kakak gak bisa nemeni Bunga untuk beberapa hari ini. Bakalan kangen deh
sama Bunganya. Kakka janji, kalau kakak dah sembuh, kakak bakalan main ke rumah
Bunga plus kakak bawain bunga melati kesukaan Bunga. Trus ntar Bunga bakalan
kakak ajak main ke rumah kakak. Bunga mau lihat kan taman melati yang pernah
kakak certain waktu itu? Nanti Bunga boleh ambil bunga melatinya sesuka bunga
deh.
Kakak
harap bunga Masih mau temenan sama kakak. Kakak gak mau kehilangan Bunga. Kakak
sayang sama bunga. Bunga itu mengingatkan kakak sama adik kakak dulu. Jangan sedih ya Sayang. Kakak gak mau liat
semangat kakak Sedih.
Salam Sayang
Kak Rangga
Tak dapat ku
bendung lagi air mata ini. Ku tumpah kan semua kesedihanku di depan kertas itu.
Sakit hati ini bagaikan teriris sembilu. Kecewa, bahagia, semua nya bercampur
jadi satu. Sampai – sampai aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
Aku tak pernah
menyangka, jika Kak Rangga, sosok yang begitu tegar, ternyata menyimpan
penyakit yang begitu parah. Dulu aku mengira aku adalah manusia yang paling
menderita di dunia ini. Sampai – sampai aku ingin mengakhiri hidupku. Tapi, kak
Rangga selalu menasihatiku, dia lah yang membuat aku masih bisa tersenyum sampai saat ini.
“Ya Tuhan, aku
mohon lancarkan lah operasi kak Rangga, supaya kami bisa bermain bersama lagi.
Aku sayang sama dia. Aku gak mau kehilangan kakak kedua ku”. Ucapku, smabil
memeluk surat kak Rangga. Hati ku hancur. Air mata ku terus menetes membasahi
pipi dan surat pemberian dari kak Rangga.
***
Hari demi hari
terus berjalan. Masih banyak perjalanan yang belum aku lewati. Masih banyak
kisah yang belum aku tulis di kehidupanku. Hari – hari tanpa kak Rangga menjadi
hari – hari yang membosankan. Kehidupanku kembali seperti sebelum ku
mengenalnya. Aku menjadi pendiam, bahkan lebih diam dari sebelumnya. Aku tak
tau apa lagi yang bisa membuat ku tersenyum.
Semuanya hambar, tak ada ceria dan tak ada tangis lagi.
Hari – hari ku
ku lalui dengan menulis diary. Hanya diary lah yang selalu mengerti perasaanku.
Semua rasa rindu dan kecewa ku terhadap kak Rangga aku tumpahkan di diary ku.
“Assalamualaikum..”
terdengar suara seseorang dari luar rumah.
“Waalaikum
salam, ya sebentar.” Terlihat dari dalam kamar ku, Ibu berlari untuk membuka
pintu untuk tamu tersebut.
“Ehh.. Nak
Rangga? Sudah sembuh ternyata.. Kapan pulang dari rumah sakit nak?” sapa ibu
“Iya buq... dua
hari yang lalu buq. Hari ini baru di izini keluar rumah. Hehehhe… Bunga nya ada
buq?”
“ ada koq.
Silahkan duduk dulu” jawab ibu sembari memperisilahkan kak Rangga duduk dan ibu
pun memanggilku di ke kamar.
Awalnya aku
enggan menemui kak Rangga. Aku masih sebel melihatnya. Karna dia tidak
menemuiku sebelum dia operasi, karena dia tidak memberitahuku tentang
penyakitnya. Aku kecewa dengannya. Rasa
rindu ku terhapus oleh kecewa ku padanya. Sehingga ketika ibu memanggilku pun,
aku tak ingin beranjak dari tempat tidur ku untuk menemuinya.
Namun, dugaanku
salah, tadinya aku mengira kak Rangga akan pergi karna aku tidak mau
menemuinya, ternyata dia malah memaksa ibu untuk membawanya ke kamar ku dan
memaksa ku untuk membuka kan pintu untuknya.
Dengan sangat
terpaksa akhirnya ku buka juga pintu kamarku. Aku tidak tega melihatnya memohon
kepadaku. Dan ternyata dia menepati janjinya. Dia membawakan ku sekotak bunga
melati putih kesukaanku. Dia juga memberiku sebatang coklat. Tak lupa dia juga
meminta maaf kepadaku. Semua rasa kecewa ku kepadanya musnah sudah. Aku sangat
bahagia melihat kak rangga ada di sisiku lagi.
Setelah pamit
kepada ibu, kak Rangga pun membawa ku pergi ke rumahnya. Dia akan mengajakku
melihat taman bunga melati yang telah dibuatkannya untukku. Sungguh, aku sangat
terharu dengan hal ini. Ternyata walaupun keadaanku seperti ini, masih ada
orang yang menganggapku special dimatanya.
Di perjalanan
kami habiskan dengan canda dan tawa, dan ku tuangkan semua kekesalanku
kepadanya. Hingga berulang kali dia meminta maaf kepada ku. Lucu rasanya. Tapi
aku bahagia. Akhirnya kami sampai disebuah rumah dengan halaman yang sangat
luas. Aku melihat banyak bunga – bunga yang berwarna warni yang di tata
sedemikian rupa, hingga menjadikannya sangat indah.
Kak Rangga pun
mengajakku masuk. Berkenalan dengan kedua orang tuanya. Lalu dia membawaku ke
sebuah taman yang sangat indah, yang pernah dia janjikan dalam suratnya. Yaitu
taman bunga melati yang sengaja
disiapkannya untukku. Sungguh tempat yang sangat indah yang belum perhah aku
lihat sebelumnya. Puluhan bunga melati putih tersusun rapi, lalu di tengah –
tengahnya terdapat sebuah ayunan yang berwarna putih pula. Ada kolam yang
dihiasi dengan sepasang patung angsa. Sungguh sebuah taman yang sangat indah
dengan semerbak aroma melati yang sangat aku sukai.
Sedang asyik –
asyiknya kami berkeliling, tiba – tiba hujan turun. Kak Rangga pun
menggendongku ke ayunan di taman itu. Taman itu terlihat semakin indah di bawah
rintikan hujan. Gemercik hujan membawa keindahan tersendiri untukku.
“Lihat itu Bunga,
ada pelangi.” Seru kak Rangga bersemangat.
“Mana kak, …. Oh
iya… Wow.. cantik banget kak.
Aku ingin
seperti pelangi kak, memiliki warna yang indah, meskipun hadirnya setelah
hujan, tapi pelangi sangat di sukai bagi setiap orang ya kak.”
“Hahahhaha.. ya
Bunga. Indah sekali ya. Seperti itulah kehidupan, pelangi adalah kebahagiaan.
Sedangkan hujan adalah musibah menurut mereka, mungkin ada sebagain orang yang
membenci hujan, namun mereka menyukai pelangi, aneh bukan?? Mereka membenci
sesuatu yang menyebabkan kebahagiaan mereka datang. Syukuri lah hidup, maka
kita akan menjadikan setiap detik yang kita lewati adalah pelangi. Ya,,
Berwarna seperti pelangi”.
Kata – kata kak
Rangga mengingatkanku kepada kakakku. Dahulu kami selalu menunggu datangnya pelangi.
Aku yang membenci hujan. Karna aku takut petir. Namun ketika hujan reda, aku
berlomba dengan kakakku untuk melihat pelangi. Dan semenjak kakakku
menasehatiku, aku bahkan kini menyukai hujan. Karna aku berharap setelah hujan
reda, aku akan menemukan pelangi. Pelangi dengan sejuta Warnanya yang indah. Aku
berharap kakakku telah berada di salah satu warna pelangi tersebut.
Begitu lah
kehidupan, tak semua yang kita lihat
menakutkan, adalah benar menakutkan. Ingatlah rencana Allah selalu lebih baik
dari apa yang kita bayangkan. Jika hari ini kau tidak bahagia, tenanglah, Tuhan
selalu menyiapkan hari esok untukmu. Maka rajutlah hari esokmu agar menjadi
lebih indah.